Baru baru ini, telinga saya terasa miris mendengar pemberitaan beberapa wali murid yang mendemo seorang wali murid yang melaporkan adanya contek massal saat UN berlangsung.
kabarnya, kepala sekolah dan beberapa guru akan di copot.
Siapa yang benar siapa yang salah?
beberapa stasiun TV menayangkan berita itu dengan judul, 'Didemo karena mengungkapkan Kebenaran'
wajar saja, jika beberapa wali murid itu berdemo, karena kelulusan anaknya masing masing terancam di copot. dan wajar saja itu semua terjadi. sebuah ke wajaran yang tidak lumrah dan ironis.
UN, dengan angka minimal kelulusan sekian. dari tahun ke tahun ternyata telah menelan banyak korban, ada siswa yang bunuh diri, stres, depresi karena tidak lulus UN, ada sekolah yang di bakar para siswanya lantaran tidak lulus UN, ada sekolah yang tutup, karena masyarakat tak lagi percaya dengan sekolah itu, karena 100% siswanya tidak lulus UN.
itu hanya segelintir kasus yang telah terjadi, dan salah satunya yang terakhir itulah yang mungkin nampaknya menjadi alasan beberapa sekolah sekolah di perkotaan, sekolah sekolah yang merasa memiliki nama besar, menghalalkan segala cara agar siswa siswanya lulus 100%.
konon, katanya ada instruksi langsung dari para petinggi dinas pendidikan, katanya semakin tinggi tingkat kelulusan maka semkin besar pula biaya pendidikan yang di anggarkan Pemerintah Pusat.
namun, tak adil rasanya jika kita hanya menyorot di satu sisi.
mari kita lihat akar dari semua yang telah terjadi.
UN, dengan segala niatan yang sangat bagus untuk menunaikan cita cita bangsa, yakni mencerdaskan anak bangsa.
sepertinya tidak di sertai dengan pemerataan fasilitas di seluruh pelosok Indonesia.
fasilitas yang dimaksud tentu saja tak sebatas fasilitas pendidikan, juga fasilitas fasilitas umum lainnya seperti transportasi, buat apa ada sekolah dengan segala fasilitas yang yahud, namun terletak di sebuah tempat yang tak terjangkau. seperti lokasi Stadion Si Jalak Harupat yang sudah berstandar Internasional, tapi akses ke sana belum lah semudah akses ke Stadion Siliwangi.
OK, sekolah sekolah di perkotaan mungkin saja bisa mencapai batas minimal kelulusan UN, tapi bagaimana dengan sekolah sekolah di pelosok?
lagi lagi salah satu aspek penyebabnya ialah belum meratanya fasilitas.
daripada membangun gedung DPR yang baru, mending uangnya buat meratakan pembangunan Fasilitas pendidikan di negeri ini.
jika memang gedung DPR sudah tak layak, lebih baik tutup saja perusahaan perusahaan asing yang menyedot harta alam Indonesia. seperti PT. Fr**port di Papua sana.
Minggu, 12 Juni 2011
Jurusan apa Dek?
Jika ada yang bertanya, angkot apa yang berkesan bagiku.. maka aku akan menjawab salah satunya ialah angkot jurusan Margahayu-Ledeng. Kenapa? Bukan karena angkot itu berjasa mengantarkanku pulang pergi kampus-rumah sakit, ketika ayahku sakit. Bukan juga karena dalam satu perjalanan ke rumah sakit, seorang ahwat yang duduk di sampingku, tertidur di pundakku. Bukan, jelas bukan itu. Namun karena aku teringat masa-masa penerimaan mahasiswa baru. Waktu itu di kampus, di hari pengurusan administrasi mahasiswa baru, aku sebagai maru (mahasiswa baru), baru saja menyelesaikan administrasiku, dan tinggal menunggu giliran di foto untuk kartu tanda mahasiswa (KTM), selagi menunggu panggilan, dari kejauhan aku melihat ke arah pintu keluar, di sana aku melihat teman-temanku sesama maru disambut para senior bak seorang artis.. sayup ku dengar teriakan para senior.
Senior, “Jurusan mana dek?”
Maru, “Jurusan Matematika..”
Senior, “Oi.. jurusan Matematika nih..”
Si maru jelas bingung.. dia lantas di hampiri seniornya dari Matematika.. dan di bawa entah ke mana.
Walau gaung ‘ospek tanpa plonco’ terus di wacanakan, aku masih sedikit su’udzon juga. Makanya aku berpikir bagaimana caranya menghindari para seniorku itu. Terlintas dalam pikiran untuk kabur, jadi setelah keluar, aku langsung saja lari terbirit-birit sekencang-kencangnya, namun pikiran itu urung kulaksanakan, karena ternyata, kondisi lapangan di luar, sudah di kondisikan sedemikian rupa sehingga tak memungkinkan seorang Maru kabur.
Lantas bagaimana nih...? bisikku dalam hati, berpura-pura bukan Maru, khawatir ketahuan, ntar bisa-bisa tambah runyem aje..
Akhirnya ketika kedua kakiku sukses mendarat di luar pintu keluar, sudah ku kira, seorang senior cewek mencegatku,
Senior I, “Jurusan apa dek?”
Aku, “Jurusan Margahayu-Ledeng..”
Aku menjawab dengan santai seraya meniggalkan senior itu, sumpah tak terlintas sedikitpun sebelumnya untuk melontarkan kalimat tadi. Dari belakang terdengar dengusan sang senior yang kemudian ia mengejarku bersama senior lainnya.
Senior I, “Eh, yang bener dek, jurusan apa?”
Senior II, “Iya, jangan main-main dong..!”
Dengan menahan gelak tawa yang ingin meledak aku menjawab, “Pendidikan Bahasa Arab”
Lantas mereka memanggil-manggil seniorku di bahasa Arab, layaknya para calo di terminal bus. Saat itu aku serasa keluar dari mulut harimau, masuk kandang singa. Namun tak seburuk yang kukira.
Itulah kenapa angkot Margahayu Ledeng cukup berkesan bagiku.
Sabtu, 11 Juni 2011
Aa Gym Adzan di Sekolah!!
keajadian ini terjadi beberapa tahun yang lalu, saat saya masih mengenakan seragam putih abu abu.
Alkisah..
menjelang dzhuhur, saya dan kawan kawan baru saja pulang sekolah, seperti biasa kami kumpul di depan masjid.
beberapa menit lagi waktunya dzhuhur, kami saling itsar untuk mengumandangkan adzan dzhuhur, akhirnya munculah ide (ide siapa ya..?) untuk memperdengarkan adzan Aa Gym ke seluruh sudut sekolah. saat itu kan biasanya adzan Aa Gym di perdengarkan radio MQ FM, dan saat itu Aa Gym lagi terkenal terkenalnya.
kebetulan, waktu itu di dalam mihrom ada radio, tak lama kami menemukan saluran 102.7 MQ FM. sound system sudah standby, tinggal menunggu detik detik terakhir adzan Aa Gym..
"wah.. pasti temen temen sekolah kaget, kok Aa Gym adzan di masjid sekolah" celetuk salah satu sahabatku.
"ya, pasti banyak yang datang ke sini untuk shalat berjama'ah, ingin lihat Aa Gym, haha.." sahut saya.
"Hebat! ini akan di catat dalam sejarah! untuk pertama kalinya Aa Gym adzan di sini, dan itu terjadi di angkatan kita..!" seru sahabatku yang lain.
dan yang dinanti pun terjadi jua. Suara Aa Gym terdengar jelas dari speaker Masjid, menelusuri lorong lorong sekolah, menyapa ke setiap sudut telinga mengajak memenuhi panggilanNya.
kami pun bergegas berwudhu, beberapa akhwat yang kami temui hampir semuanya mengerutkan kening, "eh, siapa tuh yang adzan?" tanya mereka. tak satupun dari kam yang menjawabnya, lha wong kami (mau) sedang wudhu di tanya.
satu persatu dari kami mulai memasuki masjid, namun ketika sebelah kakiku melangkah, terdengar suara, "Baik, Sahabat MQ.." yang langsung di kejar Nandar yang baru saja selesai shalat sunat. satu kecerobohan, tak ada yang menunggui radio sampai adzan selesai, sehingga tak ada yang mematikan sound system saat adzan selesai.
belum reda tawa kami atas kejadian tadi, datang sahabatku yang lain, "tadi siapa yang Adzan? ane tadi lagi di lapangan basket, kedengeran sampai ke sana.." serunya seraya tersenyum.
"uh, makanya adzan sendiri dong..!" serunya lagi setelah mendengar penjelasan kami.
selepas shalat berjama'ah, kami di soraki sebagian akhwat. ya, kami hanya bisa tersenyum.
beberapa menit lagi waktunya dzhuhur, kami saling itsar untuk mengumandangkan adzan dzhuhur, akhirnya munculah ide (ide siapa ya..?) untuk memperdengarkan adzan Aa Gym ke seluruh sudut sekolah. saat itu kan biasanya adzan Aa Gym di perdengarkan radio MQ FM, dan saat itu Aa Gym lagi terkenal terkenalnya.
kebetulan, waktu itu di dalam mihrom ada radio, tak lama kami menemukan saluran 102.7 MQ FM. sound system sudah standby, tinggal menunggu detik detik terakhir adzan Aa Gym..
"wah.. pasti temen temen sekolah kaget, kok Aa Gym adzan di masjid sekolah" celetuk salah satu sahabatku.
"ya, pasti banyak yang datang ke sini untuk shalat berjama'ah, ingin lihat Aa Gym, haha.." sahut saya.
"Hebat! ini akan di catat dalam sejarah! untuk pertama kalinya Aa Gym adzan di sini, dan itu terjadi di angkatan kita..!" seru sahabatku yang lain.
dan yang dinanti pun terjadi jua. Suara Aa Gym terdengar jelas dari speaker Masjid, menelusuri lorong lorong sekolah, menyapa ke setiap sudut telinga mengajak memenuhi panggilanNya.
kami pun bergegas berwudhu, beberapa akhwat yang kami temui hampir semuanya mengerutkan kening, "eh, siapa tuh yang adzan?" tanya mereka. tak satupun dari kam yang menjawabnya, lha wong kami (mau) sedang wudhu di tanya.
satu persatu dari kami mulai memasuki masjid, namun ketika sebelah kakiku melangkah, terdengar suara, "Baik, Sahabat MQ.." yang langsung di kejar Nandar yang baru saja selesai shalat sunat. satu kecerobohan, tak ada yang menunggui radio sampai adzan selesai, sehingga tak ada yang mematikan sound system saat adzan selesai.
belum reda tawa kami atas kejadian tadi, datang sahabatku yang lain, "tadi siapa yang Adzan? ane tadi lagi di lapangan basket, kedengeran sampai ke sana.." serunya seraya tersenyum.
"uh, makanya adzan sendiri dong..!" serunya lagi setelah mendengar penjelasan kami.
selepas shalat berjama'ah, kami di soraki sebagian akhwat. ya, kami hanya bisa tersenyum.
Kamis, 09 Juni 2011
Percobaan
Tes Tes.. chek sound, soundnya di chek..
sebuah permulaan yang sangat berbekas dan sangat indah. satu tahun yang lalu bersama ketiga kawan di kampus, atas nama Al Fazh.
Bismillah,,
Let's nge Blog..
sebuah permulaan yang sangat berbekas dan sangat indah. satu tahun yang lalu bersama ketiga kawan di kampus, atas nama Al Fazh.
Bismillah,,
Let's nge Blog..
Langganan:
Postingan (Atom)