Tampilkan postingan dengan label konyol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label konyol. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Juni 2011

Cirenk plus plus..


Jika di tanya cemilan khas Sunda favoritku apa, tentu kata pertama yang ku sebut adalah cireng, aci di goreng. Ngomong ngomong cireng, aku mengalami pengalaman unik bersama ketiga sahabatku semasa mengemban amanah mengurus rohis SMA dahulu kala.
Siang itu, masih dengan seragam putih abu abu di badan. Aku, Nandar, Iyay dan Ferdy sedikit ‘menganggur’, di kejutkan oleh debat antara Nandar dan Ferdy. Ferdy menemukan sebuah benda halus berwarna putih seperti terigu sisa anak anak mendesain panggung acara rohis kemarin lusa.
Nandar yakin jika serbuk putih itu Aci, sehingga Ferdy pun berniat membuat cireng, namun Ferdy agak ragu, Sedang Nandar pun keukeuh dengan pendapatnya.
Akhirnya setelah aku dan Iyay menonton perdebatan sengit itu, kami pun memutuskan dan mulai segera menyiapkan peralatan yang di butuhkan untuk membuat cireng.
Pertama kali, dengan air secukupnya dari galon serta garam secukupnya. Kami pun mulai membuat adonan Cireng.
Selanjutnya, kami agak kebingungan mau di masak di mana, mau di masak di luar takut ketahuan penjaga sekolah kami saat itu, Mang Aan yang sebenarnya cukup dekat dengan kami dan anak anak rohis lainnya.
Akhirnya keputusan yang gokil pun terlaksana, di dalam sekretariat DKM, dengan kompor yang menyala dan di atasnya sebuah katel berisi beberapa tetes minyak goreng, kami pun mulai menggoreng adonan cireng yang telah kami buat.
Begitu satu cireng yang lebarnya Masya Allah itu matang, dalam sekejap langsung habis di makan kami bertiga, sampai pada cireng selanjutnya matang, baru kami sadari efek menggoreng di dalam sekretariat DKM.
Kami terbatuk batuk dikelilingi asap hitam, dengan segera kami pun membuka pintu sedikit dan membuka semua jendela.
Alhasil, cireng ke dua gosong sebagian, membuatnya tak langsung habis. Saat penggorengan cireng selanjutnya, tiba tiba mang Aan terlihat menghampiri Masjid dan Sekretariat DKM yang berada tepat di samping masjid. Sontak kami pun kaget dan dengan terburu buru segera menutup kembali semua jendela dan pintu, untuk mengalihkan perhatian mang Aan, Nandar berinisiatif menghampiri mang Aan.
Tak lama kemudian, mang Aan pun pergi dengan sendirinya. Fyuhh..!

Jurusan apa Dek?

Jika ada yang bertanya, angkot apa yang berkesan bagiku.. maka aku akan menjawab salah satunya ialah angkot jurusan Margahayu-Ledeng. Kenapa? Bukan karena angkot itu berjasa mengantarkanku pulang pergi kampus-rumah sakit, ketika ayahku sakit. Bukan juga karena dalam satu perjalanan ke rumah sakit, seorang ahwat yang duduk di sampingku, tertidur di pundakku. Bukan, jelas bukan itu. Namun karena aku teringat masa-masa penerimaan mahasiswa baru. Waktu itu di kampus, di hari pengurusan administrasi mahasiswa baru, aku sebagai maru (mahasiswa baru), baru saja menyelesaikan administrasiku, dan tinggal menunggu giliran di foto untuk kartu tanda mahasiswa (KTM), selagi menunggu panggilan, dari kejauhan aku melihat ke arah pintu keluar, di sana aku melihat teman-temanku sesama maru disambut para senior bak seorang artis.. sayup ku dengar teriakan para senior.
Senior, “Jurusan mana dek?”
Maru, “Jurusan Matematika..”
Senior, “Oi.. jurusan Matematika nih..”
Si maru jelas bingung.. dia lantas di hampiri seniornya dari Matematika.. dan di bawa entah ke mana.
Walau gaung ‘ospek tanpa plonco’ terus di wacanakan, aku masih sedikit su’udzon juga. Makanya aku berpikir bagaimana caranya menghindari para seniorku itu. Terlintas dalam pikiran untuk kabur, jadi setelah keluar, aku langsung saja lari terbirit-birit sekencang-kencangnya, namun pikiran itu urung kulaksanakan, karena ternyata, kondisi lapangan di luar, sudah di kondisikan sedemikian rupa sehingga tak memungkinkan seorang Maru kabur.
Lantas bagaimana nih...? bisikku dalam hati, berpura-pura bukan Maru, khawatir ketahuan, ntar bisa-bisa tambah runyem aje..
Akhirnya ketika kedua kakiku sukses mendarat di luar pintu keluar, sudah ku kira, seorang senior cewek mencegatku,
Senior I, “Jurusan apa dek?”
Aku, “Jurusan Margahayu-Ledeng..”
Aku menjawab dengan santai seraya meniggalkan senior itu, sumpah tak terlintas sedikitpun sebelumnya untuk melontarkan kalimat tadi. Dari belakang terdengar dengusan sang senior yang kemudian ia mengejarku bersama senior lainnya.
Senior I, “Eh, yang bener dek, jurusan apa?”
Senior II, “Iya, jangan main-main dong..!”
Dengan menahan gelak tawa yang ingin meledak aku menjawab, “Pendidikan Bahasa Arab”
Lantas mereka memanggil-manggil seniorku di bahasa Arab, layaknya para calo di terminal bus. Saat itu aku serasa keluar dari mulut harimau, masuk kandang singa. Namun tak seburuk yang kukira.
Itulah kenapa angkot Margahayu Ledeng cukup berkesan bagiku.

Sabtu, 11 Juni 2011

Aa Gym Adzan di Sekolah!!

keajadian ini terjadi beberapa tahun yang lalu, saat saya masih mengenakan seragam putih abu abu.
Alkisah..

menjelang dzhuhur, saya dan kawan kawan baru saja pulang sekolah, seperti biasa kami kumpul di depan masjid.
beberapa menit lagi waktunya dzhuhur, kami saling itsar untuk mengumandangkan adzan dzhuhur, akhirnya munculah ide (ide siapa ya..?) untuk memperdengarkan adzan Aa Gym ke seluruh sudut sekolah. saat itu kan biasanya adzan Aa Gym di perdengarkan radio MQ FM, dan saat itu Aa Gym lagi terkenal terkenalnya.
kebetulan, waktu itu di dalam mihrom ada radio, tak lama kami menemukan saluran 102.7 MQ FM.  sound system sudah standby, tinggal menunggu detik detik terakhir adzan Aa Gym..
"wah.. pasti temen temen sekolah kaget, kok Aa Gym adzan di masjid sekolah" celetuk salah satu sahabatku.
"ya, pasti banyak yang datang ke sini untuk shalat berjama'ah, ingin lihat Aa Gym, haha.." sahut saya.
"Hebat! ini akan di catat dalam sejarah! untuk pertama kalinya Aa Gym adzan di sini, dan itu terjadi di angkatan kita..!" seru sahabatku yang lain.
dan yang dinanti pun terjadi jua. Suara Aa Gym terdengar jelas dari speaker Masjid, menelusuri lorong lorong sekolah, menyapa ke setiap sudut telinga mengajak memenuhi panggilanNya.
kami pun bergegas berwudhu, beberapa akhwat yang kami temui hampir semuanya mengerutkan kening, "eh, siapa tuh yang adzan?" tanya mereka. tak satupun dari kam yang menjawabnya, lha wong kami (mau) sedang wudhu di tanya.
satu persatu dari kami mulai memasuki masjid, namun ketika sebelah kakiku melangkah, terdengar suara, "Baik, Sahabat MQ.." yang langsung di kejar Nandar yang baru saja selesai shalat sunat. satu kecerobohan, tak ada yang menunggui radio sampai adzan selesai, sehingga tak ada yang mematikan sound system saat adzan selesai.
belum reda tawa kami atas kejadian tadi, datang sahabatku yang lain, "tadi siapa yang Adzan? ane tadi lagi di lapangan basket, kedengeran sampai ke sana.." serunya seraya tersenyum.
"uh, makanya adzan sendiri dong..!" serunya lagi setelah mendengar penjelasan kami.
selepas shalat berjama'ah, kami di soraki sebagian akhwat. ya, kami hanya bisa tersenyum.