dari sejak kecil mengenal sepakbola, selama itulah telinga saya mulai akrab dengan teriakan 'wasit goblog'.. sebuah luapan kekecewaan atas kepemimpinan wasit di lapangan yang di nilai berat sebelah.
merasa pemain kesayangan di langgar, namun pemain yang melanggar hanya mendapatkan peringatan, atau yang seharusnya diberi kartu merah hanya diberi kartu kuning, atau bahkan di diamkan saja oleh wasit.
kasus lainnya seperti penganuliran gol, tentu masih ingat gol Inggris yang dianulir pada laga di Piala Dunia kemarin. atau baru baru ini, atau tepatnya malam kemarin, dianulirnya gol Persib yang dicetak Cristian Gonzalez yang mendapat umpan matang dari Atep yang berada di depannya. gol ini di anulir karena hakim garis menganggap Gonzalez offside, padahal dari tayangan ulang di TV, jelas posisi Gonzalez memang berada di belakang pemain belakang terakhir Persela, namun Gonzalez mendapat umpan dari depan. dan tentu saja dengan demikian Gonzalez Onside.
sebenarnya, jiga di telisik kembali, fenomena wasit di Indonesia yang seperti itu hampir mirip dengan fenomena keterlambatan Kereta Api di indonesia, seperti yang pernah penulis singgung di Akar Keterlambatan Kereta Api , yakni karena sebuah kereta Api bisnis atau eksetkutif mengalami keterlambatan, maka kereta kereta lainnya pun ikut terlambat, termasuk kereta ekonomi. karena jalurnya di ambil oleh kereta api yang terlambat.
lalu, apa yang sebenarnya terjadi dengan wasit Indonesia yang terkadang seringkali tak hanya merugikan kesebelasan tamu, juga kesebelasan tuan rumah pun terkadang juga ikut dirugikan dengan kepemimpinan wasit.
dalam literatur, kita mengenal istilah Impas.
ketika seseorang memiliki hutang, kemudian hutang itu terbayarkan, bisa di sebut hutangnya impas atau lunas.
ketika seseorang melakukan kebaikan atau kesalahan kepada kita, kemudian kita pun membalas. bisa di sebut kebaikan atau kesalahan yang dilakukan seseorang itu sudah impas.
nah, sepertinya keadaan Impas seperti ini lah yang dicari para wasit Indonesia yang nyeleneh (yang selanjutnya kita sebut WIYN). merasa sadar jika merugikan kesebelasan tuan rumah akan menyulut emosi pendukung tuan rumah yang bukan tak mungkin akan mengancam keselamatan. WIYN yang juga sadar baru saja memutuskan keputusan yang merugikan tuan rumah, maka akan mencari kondisi impas, agar kesalahannya terampuni. dengan cara di sebuah situasi WIYN mengeluarkan keputusan yang menguntungkan kesebelasan tuan Rumah. yang bisa saja keputusan itu justru merugikan kesebelasan tamu. dan lagi lagi untuk mencapai kondisi impas WIYN di sebuah situasi lagi, mengeluarkan keputusan yang menguntungkan kesebelasan tamu, yang bisa saja keputusan itu justru merugikan kesebelasan Tuan Rumah, nah agar mencapai kondisi impas lagi WIYN melakukan hal yang sama secara berkelanjutan sampai selesainya pertandingan.
bingung?
contoh realnya mungkin seperti ini,
pada pertandingan semalam antara tuan rumah Persib vs tamu, Persela.
wasit menganulir gol Gonzalez yang dianggap offside, padahal dari siarang ulang jelas nyata posisi Gonzalez onside.
jika hipotesa di atas benar adanya, maka untuk mencapai kondisi impas, wasitpun memberikan tendangan bebas untuk Persib saat Siswanto bergesekan dengan seorang pemain Persela sampai keduanya berjatuhan dekat kotak pinalti Persib. padahal saat itu penulis yakin, hati bobotoh sudah kebat kebit, khawatir wasit memberikan pelanggaran itu kepada Persela atau bahkan menunjuk titik putih yang berarti pinalti bagi Persela.
Tampilkan postingan dengan label agak ngawur?. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agak ngawur?. Tampilkan semua postingan
Jumat, 17 Juni 2011
Kamis, 16 Juni 2011
Piagam 'Kejujuran'. tepatkah?
baru baru ini kita melihat lanjutan parodi Pelaporan Contek Massal di sebuah Sekolah Dasar.
sebuah stasiun TV swasta yang menayangkan berita itu, melontarkan pertanyaan "Apa Salah?"
jawabannya tentu tidak. namun inilah potret negeri ini.
memang, alasan yang di kemukakan sangat bagus. pelapor tak ingin anaknya tumbuh dewasa dengan ketidakjujuran yang menyertai, juga kecewa karena hal ini sudah ditanam pada anak SD, katanya, mau jadi apa negeri ini? namun anehnya, anak pelapor kan yang jadi sumber contekan, bukan yang mencontek. seharusnya bangga dong, anaknya jadi sumber contekan, berarti kepintarannya di akui juga bisa di andalkan. namun di sisi lain, mencontek memang tidaklah bagus, mencerminkan jiwa yang patut dipertanyakan lagi keimanannya, bukankah salah satu rukun Iman itu, Iman kepada Allah, juga Iman kepada Malaikat malaikat Allah. yah, idealisnya sih seperti itu, makanya tak jarang yang mengubah nama saling mencontek menjadi saling bekerja sama, saling bergotong royong yang bisa saja di sebut salah satu pengamalan Pancasila.
kembali ke Parodi yang lagi hangat hangatnya di perbincangkan sebuah stasiun TV milik salah satu birokrat. rasanya tak adil jika lagi lagi Kepala Sekolah serta Guru sekolah itu yang hanya menjadi tumbal dari inti dari Parodi ini. seharusnya di telisik kenapa para pahlawan tanpa tanda jasa ini melegalkan atau mengkondisikan terjadinya contek massal itu. yang akhirnya bermuara pada UN.
tak ada yang salah sebenarnya dengan UN. sebuah usaha untuk mencerdaskan anak bangsa. namun, UN yang disertai angka minimal kelulusan sekian, rupaya telah membuat beberapa sekolah sekolah dilanda ketakutan. mereka takut siswanya ada yang tidak lulus, bahkan 100% tidak lulus. jika sebuah sekolah mengalami hal itu, bisa jadi tak ada lagi orangtua yang menyekolahkan anaknya di sekolah itu, lha wong siswa siswanya aja enggak lulus UN. Alhasil, sekolah akan sepi pendaftar, pendapatan pun berkurang, begitu juga pasokan gaji untuk guru guru honorer. ada juga yang takut kehilangan nama besar jika salah satu siswanya ada yang tidak lulus. ada juga ketakutan ketakutan yang di alami sekolah sekolah yang memiliki ekspektasi yang cukup tinggi dari masyarakat sekitar. bisa bisa sekolah di amuk warga karena anak anaknya tidak lulus UN.
saya jadi teringat kata guru saya semasa SD. menjadi guru itu memang sudah nasip nya seperti ini, ketika sang siswa nakal dan berulah, yang di salahkan pasti gurunya, atau paling tidak kepala sekolahnya pun ikut ikutan Katempuhan Buntut Maung. namun, ketika sang anak berprestasi, justru yang diungkit ungkit malah keduaorangtuanya. hah.. nasiip jadi guru..
Back to Topic..
ketakutan ketakutan di atas, bisa jadi yang menjadi salah satu faktor sebuah sekolah melegalkan praktik contek massal. atau penghalalan segala cara agar siswa siswanya lulus UN. lantas kenapa ketakutan ketakutan seperti itu bisa muncul? salah satunya karena ketidak merataannya fasilitas yang mendukung pendidikan di negeri ini. baik itu fasilitas pendidikannya, fasilitas transportasi, maupun fasilitas kesehatan.
jika Piagam 'Kejujuran' itu sudah tepat di berikan. sepertinya itu hanya berlebihan saja adanya. masih banyak di negeri ini yang memiliki sifat Jujur yang tak sekedar dihargai dengan sebuah piagam.
jika Piagam 'Kejujuran' itu sudah tepat di berikan. nampaknya dalam waktu dekat ini, saya pun akan mendapatkan Piagam itu, malah jumlahnya lebih dari satu!
Haha...
Cag!
sebuah stasiun TV swasta yang menayangkan berita itu, melontarkan pertanyaan "Apa Salah?"
jawabannya tentu tidak. namun inilah potret negeri ini.
memang, alasan yang di kemukakan sangat bagus. pelapor tak ingin anaknya tumbuh dewasa dengan ketidakjujuran yang menyertai, juga kecewa karena hal ini sudah ditanam pada anak SD, katanya, mau jadi apa negeri ini? namun anehnya, anak pelapor kan yang jadi sumber contekan, bukan yang mencontek. seharusnya bangga dong, anaknya jadi sumber contekan, berarti kepintarannya di akui juga bisa di andalkan. namun di sisi lain, mencontek memang tidaklah bagus, mencerminkan jiwa yang patut dipertanyakan lagi keimanannya, bukankah salah satu rukun Iman itu, Iman kepada Allah, juga Iman kepada Malaikat malaikat Allah. yah, idealisnya sih seperti itu, makanya tak jarang yang mengubah nama saling mencontek menjadi saling bekerja sama, saling bergotong royong yang bisa saja di sebut salah satu pengamalan Pancasila.
kembali ke Parodi yang lagi hangat hangatnya di perbincangkan sebuah stasiun TV milik salah satu birokrat. rasanya tak adil jika lagi lagi Kepala Sekolah serta Guru sekolah itu yang hanya menjadi tumbal dari inti dari Parodi ini. seharusnya di telisik kenapa para pahlawan tanpa tanda jasa ini melegalkan atau mengkondisikan terjadinya contek massal itu. yang akhirnya bermuara pada UN.
tak ada yang salah sebenarnya dengan UN. sebuah usaha untuk mencerdaskan anak bangsa. namun, UN yang disertai angka minimal kelulusan sekian, rupaya telah membuat beberapa sekolah sekolah dilanda ketakutan. mereka takut siswanya ada yang tidak lulus, bahkan 100% tidak lulus. jika sebuah sekolah mengalami hal itu, bisa jadi tak ada lagi orangtua yang menyekolahkan anaknya di sekolah itu, lha wong siswa siswanya aja enggak lulus UN. Alhasil, sekolah akan sepi pendaftar, pendapatan pun berkurang, begitu juga pasokan gaji untuk guru guru honorer. ada juga yang takut kehilangan nama besar jika salah satu siswanya ada yang tidak lulus. ada juga ketakutan ketakutan yang di alami sekolah sekolah yang memiliki ekspektasi yang cukup tinggi dari masyarakat sekitar. bisa bisa sekolah di amuk warga karena anak anaknya tidak lulus UN.
saya jadi teringat kata guru saya semasa SD. menjadi guru itu memang sudah nasip nya seperti ini, ketika sang siswa nakal dan berulah, yang di salahkan pasti gurunya, atau paling tidak kepala sekolahnya pun ikut ikutan Katempuhan Buntut Maung. namun, ketika sang anak berprestasi, justru yang diungkit ungkit malah keduaorangtuanya. hah.. nasiip jadi guru..
Back to Topic..
ketakutan ketakutan di atas, bisa jadi yang menjadi salah satu faktor sebuah sekolah melegalkan praktik contek massal. atau penghalalan segala cara agar siswa siswanya lulus UN. lantas kenapa ketakutan ketakutan seperti itu bisa muncul? salah satunya karena ketidak merataannya fasilitas yang mendukung pendidikan di negeri ini. baik itu fasilitas pendidikannya, fasilitas transportasi, maupun fasilitas kesehatan.
jika Piagam 'Kejujuran' itu sudah tepat di berikan. sepertinya itu hanya berlebihan saja adanya. masih banyak di negeri ini yang memiliki sifat Jujur yang tak sekedar dihargai dengan sebuah piagam.
jika Piagam 'Kejujuran' itu sudah tepat di berikan. nampaknya dalam waktu dekat ini, saya pun akan mendapatkan Piagam itu, malah jumlahnya lebih dari satu!
Haha...
Cag!
Minggu, 12 Juni 2011
UN dan segala yang menyertainya.
Baru baru ini, telinga saya terasa miris mendengar pemberitaan beberapa wali murid yang mendemo seorang wali murid yang melaporkan adanya contek massal saat UN berlangsung.
kabarnya, kepala sekolah dan beberapa guru akan di copot.
Siapa yang benar siapa yang salah?
beberapa stasiun TV menayangkan berita itu dengan judul, 'Didemo karena mengungkapkan Kebenaran'
wajar saja, jika beberapa wali murid itu berdemo, karena kelulusan anaknya masing masing terancam di copot. dan wajar saja itu semua terjadi. sebuah ke wajaran yang tidak lumrah dan ironis.
UN, dengan angka minimal kelulusan sekian. dari tahun ke tahun ternyata telah menelan banyak korban, ada siswa yang bunuh diri, stres, depresi karena tidak lulus UN, ada sekolah yang di bakar para siswanya lantaran tidak lulus UN, ada sekolah yang tutup, karena masyarakat tak lagi percaya dengan sekolah itu, karena 100% siswanya tidak lulus UN.
itu hanya segelintir kasus yang telah terjadi, dan salah satunya yang terakhir itulah yang mungkin nampaknya menjadi alasan beberapa sekolah sekolah di perkotaan, sekolah sekolah yang merasa memiliki nama besar, menghalalkan segala cara agar siswa siswanya lulus 100%.
konon, katanya ada instruksi langsung dari para petinggi dinas pendidikan, katanya semakin tinggi tingkat kelulusan maka semkin besar pula biaya pendidikan yang di anggarkan Pemerintah Pusat.
namun, tak adil rasanya jika kita hanya menyorot di satu sisi.
mari kita lihat akar dari semua yang telah terjadi.
UN, dengan segala niatan yang sangat bagus untuk menunaikan cita cita bangsa, yakni mencerdaskan anak bangsa.
sepertinya tidak di sertai dengan pemerataan fasilitas di seluruh pelosok Indonesia.
fasilitas yang dimaksud tentu saja tak sebatas fasilitas pendidikan, juga fasilitas fasilitas umum lainnya seperti transportasi, buat apa ada sekolah dengan segala fasilitas yang yahud, namun terletak di sebuah tempat yang tak terjangkau. seperti lokasi Stadion Si Jalak Harupat yang sudah berstandar Internasional, tapi akses ke sana belum lah semudah akses ke Stadion Siliwangi.
OK, sekolah sekolah di perkotaan mungkin saja bisa mencapai batas minimal kelulusan UN, tapi bagaimana dengan sekolah sekolah di pelosok?
lagi lagi salah satu aspek penyebabnya ialah belum meratanya fasilitas.
daripada membangun gedung DPR yang baru, mending uangnya buat meratakan pembangunan Fasilitas pendidikan di negeri ini.
jika memang gedung DPR sudah tak layak, lebih baik tutup saja perusahaan perusahaan asing yang menyedot harta alam Indonesia. seperti PT. Fr**port di Papua sana.
kabarnya, kepala sekolah dan beberapa guru akan di copot.
Siapa yang benar siapa yang salah?
beberapa stasiun TV menayangkan berita itu dengan judul, 'Didemo karena mengungkapkan Kebenaran'
wajar saja, jika beberapa wali murid itu berdemo, karena kelulusan anaknya masing masing terancam di copot. dan wajar saja itu semua terjadi. sebuah ke wajaran yang tidak lumrah dan ironis.
UN, dengan angka minimal kelulusan sekian. dari tahun ke tahun ternyata telah menelan banyak korban, ada siswa yang bunuh diri, stres, depresi karena tidak lulus UN, ada sekolah yang di bakar para siswanya lantaran tidak lulus UN, ada sekolah yang tutup, karena masyarakat tak lagi percaya dengan sekolah itu, karena 100% siswanya tidak lulus UN.
itu hanya segelintir kasus yang telah terjadi, dan salah satunya yang terakhir itulah yang mungkin nampaknya menjadi alasan beberapa sekolah sekolah di perkotaan, sekolah sekolah yang merasa memiliki nama besar, menghalalkan segala cara agar siswa siswanya lulus 100%.
konon, katanya ada instruksi langsung dari para petinggi dinas pendidikan, katanya semakin tinggi tingkat kelulusan maka semkin besar pula biaya pendidikan yang di anggarkan Pemerintah Pusat.
namun, tak adil rasanya jika kita hanya menyorot di satu sisi.
mari kita lihat akar dari semua yang telah terjadi.
UN, dengan segala niatan yang sangat bagus untuk menunaikan cita cita bangsa, yakni mencerdaskan anak bangsa.
sepertinya tidak di sertai dengan pemerataan fasilitas di seluruh pelosok Indonesia.
fasilitas yang dimaksud tentu saja tak sebatas fasilitas pendidikan, juga fasilitas fasilitas umum lainnya seperti transportasi, buat apa ada sekolah dengan segala fasilitas yang yahud, namun terletak di sebuah tempat yang tak terjangkau. seperti lokasi Stadion Si Jalak Harupat yang sudah berstandar Internasional, tapi akses ke sana belum lah semudah akses ke Stadion Siliwangi.
OK, sekolah sekolah di perkotaan mungkin saja bisa mencapai batas minimal kelulusan UN, tapi bagaimana dengan sekolah sekolah di pelosok?
lagi lagi salah satu aspek penyebabnya ialah belum meratanya fasilitas.
daripada membangun gedung DPR yang baru, mending uangnya buat meratakan pembangunan Fasilitas pendidikan di negeri ini.
jika memang gedung DPR sudah tak layak, lebih baik tutup saja perusahaan perusahaan asing yang menyedot harta alam Indonesia. seperti PT. Fr**port di Papua sana.
Langganan:
Postingan (Atom)